Art Original
'' Dendam dan Dua Ember Kalajengking",
Saya termenung di tepi sungai wanatirta dengan perasaan paling haru yang hinggap dan laruk tak sudah- sudah, bukan sebab suami saya meregang nyawa tadi pagi. itu tak jadi soal. maksud saya, tanpa harus dirayakan dengan tangisan paling sendu di muka bumi ia pasti mati. Bahwa banyak yang menaruh perhatian atas kematiannya, itu bukan karena perangai semasa ia hidup. kematiannya geger diceritakan oleh semua pembual di desa ini. jauh berbeda dengan kematian Abah yang diselimutin kesenyapan. ingatan tentang kematian Abah memang sulit dibedakan dengan seekor katak di musim hujan. Ia sering melompat dan menjijikan. kematian suami saya, pagi tadi, seperti mengundang kemunculan katak itu. tiba-tiba ia menampakkan wujudnya pada malam awal oktober yang muram.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain