Art Original
Baromban : Kidung Murung Tanah Kelahiran
Sengaja saya tuliskan empat larik puisi Rendra untuk mengawali tulisan sederhana ini. Bulan Agustus 2016 lalu, penyair kita, Iyut Fitra, menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi yang berjudul Baromban (Akar Indonesia, 2016). Lazimnya seorang penulis, terlebih seorang penyair, dengan terbitnya sebuah buku, itu berarti ia dengan rela '' melepas anak batinnya'' untuk menemui pembaca. di dalamnya tentu terkandung gagasan atau suara yang hendak ia sampaikan. dan, jika kita membaca buku kumpulan puisi yang berisi 42 puisi itu, maka yang kita temukan selain untaian kata-kata dan frasa-frasa yang segar khas Iyut Fitra, adalah derita lingkungan dan masalah kehidupan masyarakatnya, di tanah kelahirnya. daerah perkotaan, baik di kota- kota besar maupun kota-kota kecil di indonesia . tapi ini bukan sekadar kejadian atau peristiwa umum bagi Iyut Fitra. Ini kejadian atau peristiwa khusus ( baca : puitik ). dari kejadian atau peristiwa ini ia merasakan sesuatu yang lain. ia mendengar the other voice, suara yang lain ( pinjam Octavio Paz ).
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain