Art Original
Sudran Tak Jadi Mati
Kesepian itu kini telah menjadi kulit karinya, menjadi rambut di tubuhnya. hingga ia bergerak memintal tali dan menggantungnya di pintu kamar mandi. sebuah kursi ia tempatkan di bawahnya. seusai mengaitkan tali, ia pergi masuk ke kamar mandi ; berwudhu untuk dua kali ruku- entah salat apa. setelahnya, ia mendekati kursi dan segera menaikinya. sebelum mengalungkan tali, ia tengadahkan tangan, bibirnya yang tak pernah mencicip tembakau itu komat-kamit. setelah itu tangannya mulai meraih tali dan mengalungkannya. tapi, sebelum sempat ia meloncat dan menendang kursi, cicak di palang itu kamarnya bersuara ; cek,cek,cek. saat itulah, ia merasa sesuatu jatuh dan menimpa kepalanya. Seketika itu, ia menengadah tangannya mengusap kepala dan terus melengguh lebih keras. cicak yang semula di atas kepalanya segera terbirit ke dinding, ke langit-langit kamar yang diterangi lampu temaram. ia menghela napas. Binatang sialan itu menggangu prosesi melepas nyawanya lagi. ia benci binatang melata itu, sebenci ia pada ayahnya. muasal ia membenci binatang itu, tidak berbeda dengan alasan ia membenci ayahnnya. dulu, sewaktu ia masih berusia lima tahun, binatang itu pernah dijejalkan ayah ke mulutnya
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain