Art Original
Petuah- petuah K(h)idir
Aku sudah bangun, mengerek tali timba mengambil air dari dasar sumur yang hampir kerontang, lantaran dihisap musim kemarau yang panjang. Lalu segera mengguyur badanku yang ceking, yang mengigil digerogoti dingin. suara Abah sepulang shaklat subuh di langgar, terdengar sayup berbincang dengan tetangga di halaman rumah. Sementara Emak penggilanku untuk ibu sedang di dapur membuat gonjleng; menggoreng nasi sisa kemarin. Cukup ditaburi seujung sendok garam dan beberapa siung irisan bawang merah. Selesai mandi, berpakaian, shalat subuh. dan melahap gonjleng buatan emak agar tidak masuk angin selama di perjalanan. Aku sempatkan kembali memeriksa tas. Barangkali ada perlengkapan yang lupa kumasukkan . setelah ngecek Al Quran, kain sarung, kopyah lusuh, dan beberapa setel pakaian.Aku segera berpamitan meminta doa restu kepada kedua orangtuaku.''Mak Abah, Nasrudin pamit ya, doain moga di pondoknya betah dan lancar! '' ucapku, seraya menyalami punggung tangan ke dua orangtuaku.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain